sejarah tari tanggai palembang

Sejarah Tari Tanggai Palembang

Sejarah Tari Tanggai Palembang – Hi sobat budiman, bagaimana kabar kalian? Sehat? Eemm, kali ini sowthy.com akan memaparkan ulasan terkait asal-usul tari Tanggai Palembang.

Adalah salah satu tarian di Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera Selatan. Ngomong-ngomong, siapa sih yang belum kenal dengan kota ini, yang mempunyai makan khas terkenal banget, empek-empek.

Eh, tapi kita bukan untuk membahas makanan khas Sumatera ya, kita akan fokus kepada salah satu tari tradisionalnya, “Sejarah Tari Tanggai Palembang.”

Mengenal Tari Tanggai Palembang Sumatera Selatan

Tari Tanggai. Di Indonesia, tari yang berperan sebagai penyambutan lumayan banyak macamnya. Kalau dihitung-hitung, hampir setiap wilayah memilikinya.

Bahkan ada sebagian daerah mempunyai lebih dari satu tari penyambut tamu. Di Palembang, Sumatera Selatan misalnya. Terdapat Tarian Tanggai sebagai salah satu tarian penyambutan tamu.

Sebagai tarian penyambutan, tari Tanggai muncul menggambarkan keramah-tamahan serta rasa hormat warga Palembang kepada para tamu yang singgah dikesana.

Dalam prakteknya, Tari Tanggai biasa dipertunjukkan dalam upacara perkawinan adat Palembang, dengan maksud mewakili ungkapan selamat datang kepada para tamu undangan.

Tidak sedikit banyak hal, tari ini mempunyai banyak kesamaan dengan Tari Gending Sriwijaya yang juga merupakan tari penyambutan khas Palembang.

Meski terlihat mirip, namun tetap saja ada perbedaannya. Perbedaannya terletak pada jumlah penari, tari Tanggai dibawakan oleh 5 penari sedangkan Gending Sriwijaya dibawakan oleh 9 penari dengan peralatan yang lebih lengkap.

Sejarah Tari Tanggai Palembang

sejarah tari tanggai palembang
Kelambit.com

Dahulu kala, tari Tanggai dipersembahkan khusus untuk dewa siwa yang disertai dengan membawa sesajian berisi buah serta berbagai macam bunga.

Oleh sebab itu, sampai pada saat ini, tari Tanggai meski menunjukkan keramah-tamahan tetap saja agak kaku dan berbau sakral.

Mengapa tarian ini bersifat sakral? Karena tari tanggai memanglah tari yang disakralkan ataupun di sucikan sebab gunanya sebagai pengantar persembahan terhadap dewa-dewa dalam keyakinan Buddha serta tidak boleh ditarikan sembarangan.

Tari Tanggai yang terdapat di Palembang mempunyai banyak kesamaan dengan tarian yang terdapat di Cina. Hal ini diakibatkan konon, di Sumatra Selatan terdapat suatu kerajaan yang dibangun oleh generasi Raja Syailendra yang memeluk agama Budha.

Secara tidak langsung, tarian Tanggai ini juga dianjurkan sebab tari ini berperan sebagai tari pemujaan serta persembahan dalam keyakinan agama Buddha.

Pada era penjajahan Belanda, Pemerintah Belanda tidak memperbolehkan wanita menari, cuma pria sajalah yang boleh menari.

Tatkala itu, mereka tertarik dengan Tanggai, hingga pada tahun 1920 mereka memakai tanggai dan sekapur sirih (sirih, kapur, pinang, gambir serta tembakau yang di peruntukan satu, yang disusun dalam suatu tepak sirih)

Tanggai dan sekapur sirih tersebut berperan sebagai tari penyambutan yang dinamakan Tari Tepak atau yang lebih sering terkenal dengan istilah Tari tanggai.

Pada era penjajahan Jepang, tari ini tidak boleh ditampilkan, hingga penjajah Jepang memita Sukainah Rozak selaku Gadis karesidenan Palembang buat menghasilkan garakan Tari Gending Sriwijaya.

Sedangan syair lagu dari Tari Gending Sriwijaya diciptakan oleh Nung Cik AR, serta musik Tari Gending Sriwijaya di mengadakan oleh Dahlan Mahibat.

Pada tahun 1965 terjalin pemberontakan PKI serta pencipta syair tersebut, ialah Nung Cik AR disinyalir selaku anggota PKI sehingga dia ditangkap dan Tari Gending Sriwijaya tatkala itu tak boleh ditampilkan.

Tetapi, disebabkan banyaknya Tamu Kehormatan Negeri serta Pejabat Negeri yang tiba ke Palembang namun tidak ada tarian yang biasa digunakan buat menyongsong tamu-tamu yang tiba, hingga bunda Elly Rudi serta bunda Anna Kumari mengangkut kembali dan menyusun gerakan-gerakan Tari Tanggai itu.

Lirik Lagu Tari Tanggai

lagu, kamalah, baju tari tanggai
musi.itb.ac.id

Selain indah melalui gerakan yang dihadirkan, sajian tari berlangsung harmoni dengan lagu pengiringnya yang berjudul “Enam Bersaudara.”

Adalah lagu yang melambangkan keharmonisan hidup masyarakat Palembang. Nuansa Melayu sangat kental dari instrumen pengiring, namun tetap mempertahankan wrna musik daerah Palembang.

Alat musik yang bias digunakan sebagai penggiring tarian ini ialah diantaranya:

  • Accordion
  • Biola
  • Gendang
  • Gong

Namun di masa sekarang ini, tidak jarang untuk mengiringi tarian ini juga memanfaatkan instrumen musik yang lebih modern seperti;

  • Organ tunggal
  • Band
  • Bass

Semua bergantung pada yang mengadakan acaranya.

Gerakan Tari Tanggai

Sejauh ini, Tarian Tanggai sering kali dipertunjukkan pada acara-acara adat di Palembang.

Keindahan tarian ini dapat dinikmati pada perpaduan gerak gemulai dengan pakaian khas daerah kelima penarinya. Salah satu dari sang penari itu, ada yang membawa tepak Sekapur Sirih berisikan sirih, kapur, gambir, pinang dan tembakau.

Sirih diartikan atau dimaksudkan sebagai simbol penghormatan yang diperuntukkan kepada sang tamu sebagai tanda bahwa masyarakat Palembang siap menerima dan melayani tamu tersebut dengan sepenuh hati.

Kapur sirih yang dibawakan sang penari tari Tanggai itu ada dua macam, yakni sirih yang udah jadi dan sirih yang belum jadi. Sirih yang belum jadi itu nantinya akan diramu sendiri oleh tamunya.

Tari Tanggai menghadirkan rangkaian gerakan yang telah divariasikan dan dikembangkan menjadi satu kesatuan utuh hingga terbentuklah struktur tari yang elok dan menawan.

Struktur gerakan Tari Tanggai tersebut diantaranya:

AwalGerak masuk posisi sembah, Gerak Borobudur hormat, Gerak Sembah berdiri, Jalan keset, Kecubung berdiri bawa kanan, Kecubung beridiri bawah kiri, Kecubung berdiri atas kanan, Kecubung berdiri atas kiri, Ukur benang.
IntiTutur sabda, Sembah duduk, Tabur bunga duduk kanan dan kiri, Memohon posisi duduk kanan, Kecubung duduk kanan, kecubung duduk kiri, Stupa kanan dan stupa kiri, Tutur sabda, Borobudur, Ulur benang.
AkhirTolak bala berdiri kanan dan tolak bala berdiri kiri, Nyumping berdiri kanan dan nyumping berdiri kiri, Mendengar berdiri kanan dan kiri, Tumpang tali/ulur benang berdiri kanan dan kiri, Sembah berdiri, Borobudur berdiri, Borobudur hormat.

Properti Tari Tanggai

asal-asul tari tanggai
Kamera Budaya

Properti yang digunakan dalam menarikan tari Tanggai ada 2, yakni tanggai dan tepak.

Tanggai ialah hiasan kuku yang dipasang jemari tangan para penari kecuali jempol. Hiasan itu jumlahnya ada 8.

Tanggai berfungsi untuk menambah kesan lentik pada jari penari sekaligus sebagai tambahan untuk menciptakan nuansa dan kesan indah pada gerakan jemari yang dimainkan.

Selain pada tari tanggai, properti ini juga ditemukan pada tari sembah, tari tradisional Lampung dan beberapa tari tradisional kebudayaan Thailand.

Properti selanjutnya, Tepak. Tepak ialah sebuah kotak yang berisi hidangan daun sirih, kapur, gambir dan tembakau yang tatkala itu biasanya disuguhkan pada para tamu yang datang.

Hidangan itu sesuai dengan kebiasan masyarakat masa silam yang masih gemar mengunyah sirih (nyirih). Kalau saat ini hidangan tersebut biasanya diganti dengan permen, coklat, atau camilan lainnya.

Fungsi Tari Tanggai

Tari tanggai selalu di tampilkan dalam acara adat kebudayaan Palembang, baik secara resmi maupun non-resmi.

Dalam hal ini bagi para penari, tari tanggai mempunyai kenikmatan tersendiri bagi mereka sendiri dan secara tidak langsung dapat menghibur diri para tamu yang datang.

Maka cecara umum, tari ini nerfungsi sebagai sarana hiburan dan simbol rasa hormat kepada para tamu. Atau untuk lebih jelasnya begini:

1. Simbol kehormatan

Tatkala menarikan tarian ini, harus ada salah satu sang penari yang menjadi primadona. Primadona itulah yang akan membawa tepak berisikan sekapur sirih.

Nah, sekapur sirih itulah yang menjadi simbol penghormatan kepada para tamu. Kehormatan di berikan sekapur sirih sebagai simbol bahwa masyarakat Palembang siap menerima tamu tersebut.

3. Sasarana pendidikan

Tari Tanggai selain memiliki unsur hiburan, Tari tanggai juga memiliki unsur pendidikannya (pengetahuan), khususnya dalam bidang seni tari.

Demikian ulasan terkait sejarah tari Tanggai Palembang. Semoga bermanfaat dan mendatangkan keberkahan.

Terima kasih

Selamat dan sukses….

sowthy.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: